Human Relation ke-5

 Jakarta, 27 April 2021


Halo, hari ini saya kembali mengikuti kelas mata kuliah Human Relation yang dibimbing oleh bu Serepina. Kuliah dipertemuan ke 5 ini menggunakan Zoom Meeting dan beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi dg kelompoknya masing-masing.


Topik pembahasan kali ini yaitu HR dalam lingkup kerja dan keluarga. Beberapa hal yang mempengaruhi hubungan manusia di lingkungan kerja yaitu komunikasi yang efektif. 

Hal ini tdk berlaku thd rekan kerja yang seruangan saja, namun berlaku kepada semua orang dg semua jabatan. Komunikasi yg efektif berguna agar kita dapat mempererat hubungan diantara orang-orang yang di kantor. Kemudian ada reward, motivasi dan pengembangan skill.


Selanjutnya HR di lingkungan keluarga yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan percaya diri anak. Maka dari itu diharapkan kepada orangtua agar memberikan interaksi intens serta komunikasi yang hangat dan terbuka kpd anak. 


Tanda hubungan keluarga sehat =

  1. Memberi apresiasi dan kasih sayang kepada anggota keluarga,
  2. Komitmen,
  3. Komunikasi yang efektif,
  4. Gemar menghabiskan waktu bersama,
  5. Menyelesaikan masalah bersama.


Adapun keluarga toxic yang berpengaruh thd seseorang. Didalam keluarga toxic biasanya menyerang dan merusak fisik, psikologis dan mental anggota keluarga. 


Dalam sebuah studi yang dimuat di Journal of Family Medicine and Disease Prevention, terdapat delapan faktor yang menyebabkan keluarga menjadi toxic. Di antaranya sebagai berikut. 

  1. Orang tua yang abusive, otoriter, terlalu memanjakan anak, menderita gangguan kepribadian, dan kecanduan obat-obatan terlarang 
  2. Adanya campur tangan dari keluarga besar 
  3. Anak yang memiliki penyakit kronis atau penyandang disabilitas 
  4. Peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan seperti perceraian 
  5. Nilai keluarga, budaya, dan etnis 
  6. Insecure attachment 
  7. Keluarga disfungsional dari generasi sebelumnya 
  8. Stabilitas dan/atau instabilitas sistematis 


Setiap orang berhak mendapatkan kasih sayang dan rasa hormat agar dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk orang di toxic family. Namun, perlu melalui proses coping dan healing yang tepat. Yuk simak berikut! 

  1. Mencoba menerima keadaan 

Teori Radical acceptance menjelaskan untuk menerima hidup apa adanya dan tidak menyangkal hal yang tidak bisa diubah (Linehan, 1993).

Memang sangat susah untuk menerima suatu hal yang buruk. Namun, akan lebih susah untuk tidak menerima kenyataan. Tapi hal ini tidak bisa disamaratakan dengan setiap individu, dengan mempertimbangkan individual differences.

  1. Talk to someone 

Untuk mempunyai kesehatan mental yang baik, setiap orang membutuhkan setidaknya satu orang yang dengannya dapat menjadi “transparan” (Jourad, 1964). 

  1. Memaafkan 

Memaafkan berarti memilih untuk menerima keadaan apa adanya, bukan mengharapkan outcome yang lebih baik. Memaafkan dan memberikan kesempatan kedua kepada keluarga dapat memberikan ketenangan batin. 

  1. Set boundaries 

Meskipun sudah memaafkan, ada baiknya untuk menetapkan healthy boundary. Seperti perilaku apa saja yang wajar dilakukan oleh kedua belah pihak agar tidak mengulang peristiwa yang sama. (Faubion, 2020) 

  1. Cari support system baru 

Dalam situasi seperti ini, seseorang sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya, baik teman maupun pasangan. Hal ini juga dapat membantu meringankan perasaan penderitaan dan kesepian. (Campbell, 2020) 


Source:

PowerPoint Kelompok Human Relation


lm.psikologi.ugm.ac.id

Comments